OpenDesa Dukung “Aksara Jawa Menolak Punah”  

//OpenDesa Dukung “Aksara Jawa Menolak Punah”  

OpenDesa Dukung “Aksara Jawa Menolak Punah”  

Webinar : Pegiat dan Pemerhati Aksara Jawa gelar seminar virtual untuk pelesatarian aksara Jawa, dalam rangka peringati Hari Aksara Internasional, Senin(6/9).

Implementasikan Tema Lokal Lewat Sistem Informasi Desa

OpenDesa–Aset budaya aksara Jawa jadi inti pembicaraan webinar dalam rangka menyongsong hari aksara Internasional. Iven diskusi virtual yang digelar Pemerintah Kelurahan Srimulyo bersama Pokdarwis Gerbang Madu dan Lembaga Pengembangan Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa (LPBSA) menggandeng komunitas desa terbuka (OpenDesa), serta Dinas Kebudayaan DIY dan sejumlah komunitas pemerhati kebudayaan, Senin(6/9)lalu. 

Webinar yang digelar dengan 60 orang partisipan yang terdiri dari berbagai latar belakang profesi , mulai dari pendidik perangkat desa, komunitas pegiat pelestari aksara dan mahasiswa ini, antusias mengikuti agenda diskusi tentang aksara Jawa yang dianggap menjadi salah satu keistimewaan serta aset budaya bangsa yang perlu dilestarikan. 

Empat orang pembicara,  Tri Agus Nugroho S. Sos, M.Sc. Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah Bahasa Sastra dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Hernindya Wisnuadji, Ketua Umum OpenDesa dan Aris Eko Nugroho, SP, M. Si dari Parinadya Pati serta pegiat Kampung Aksara, Akhmad Fikri AF membahas mulai dari Implementasi Aksara Jawa dalam Website OpenDesa,  Aksara dan Keistimewaan Yogyakarta, Perhatian Pemerintah DIY serta aksara Jawa dalam dunia digital. 

“Kami mendukung tema-tema lokal seperti ini sebagai perwujudan bahwa pengembangan sistem informasi desa Indonesia itu melestarikan karunia keberagaman nusantara,”ucap Ketua Umum OpenDesa, Hernindya Wisnuadji. 

Hernindya menyampaikan, pentingnya hasil webinar menjadi rencana aksi bersama. Artinya sebagai langkah pelestarian dengan diaplikasikan penggunaan aksara jawa di sekolah maupun di kantor-kantor desa. 

“Pemenuhan Tiga aspek inisiatif keberlanjutan inisiatif pelestarian aksara Jawa Ngayogyan yakni,  Regulasi, Kelembagaan dan Infrastruktur,”tukas Hernindya berbicara menyampaikan pesan dalam webinar.

Sementara Tri Agus Nugroho dalam paparannya seperti dikutip dari https://srimulyo-bantul.desa.id/ menyampaikan, Aksara Jawa saat ini masih dalam kategori Limited Use Script. Sehingga perlu gerakan bersama dengan memanfaatkannya dalam Tiga aspek penting, mulai dari ruang lingkup harian, pembelajaran dan birokrasi pemerintahan. 

Hal ini ditujukan agar gerakan sosial mampu  mengkondisikan kaum milenial bangga dan percaya diri untuk beraksara. Kemudian digitalisasi aksara jawa ini juga dalam rangka meneguhkan jati diri dan identitas khas.  

“Dari riset yang dilakukan, pemanfaatan aksara saat ini yang menggunakan teks beraksara Jawa dari 5.045 responden, 75,8 persen perempuan dan 24,2 persen laki-laki. Ini membuktikan bahwa, kaum perempuan yang sering dimarginalisasi gagap teknologi ternyata menunjukkan hal yang sebaliknya. Pemanfaatannya lebih banyak dilakukan melalui kanal sosial media dengan dominasi penggunaan aksara tersebut melalui telepon pintar,” ungkap Tri Agus menambahkan.

Pembicara lainnya, Ahmad Fikri memulai paparannya dengan mengutip sambutan yang disampaikan oleh Profesor Yudho Giri Sucahyo, Ketua PANDI dalam Kongres Aksara Jawa I pada Maret 2021 lalu menegaskan, jika aksara apapun bila tidak memasuki ranah digital maka akan dianggap punah.

Ini menjadi peringatan betapa mirisnya sejarah panjang berabad-abad menjadi buram, hanya karena tidak eksis di dunia digital. 

“Kita perlu mendorong komunitas muda untuk menggunakan aksara jawa sebagai bagian dari aksara pergaulan mereka. Penting bagi kita untuk tidak mudah menyalahkan apapun ekspresi beraksara jawa para generasi muda dalam platform digital karena kepercayaan diri para generasi muda untuk belajar beraksara ini menjadi kunci keberhasilan pemasifan atas penggunaan aksara jawa ini,” kata Fikri menegaskan.

di penghujung webinar, Perkumpulan Desa Digital Terbuka atau OpenDesa yang notabene mengembangkan OpenSID telah digunakan secara luas di Indonesia. Artinya 12.851 desa juga  mendukung penuh pengembangan pemanfaatan aksara jawa di ekosistem digital yang dimulai di Kelurahan Srimulyo. 

“Praktik baik ini akan dikembangkan lebih lanjut sehingga menjadi tendangan bola salju yang berdampak luas dan semakin besar bagi pelestarian aksara nusantara lainnya di Indonesia,”kata Hernindya Wisnuadji, Ketua Umum OpenDesa yang turut memberikan dukungan terkait implementasi aksara jawa di platform digital kelurahan.(*)

 

By |2021-09-14T16:00:44+07:00September 13th, 2021|OpenDesa|0 Comments

Leave A Comment