Suganda, Lahir di Desa Tegal Kuning, Subang, pada 28 September 1980, nasib membawa Suganda kecil menginjakkan kaki di tanah Mesuji pada usia lima tahun. Mengikuti jejak orang tua yang mengadu nasib di perusahaan swasta, Suganda tumbuh besar dengan mencicipi dinamika pendidikan di lintas daerah—mulai dari Mesuji, Tulang Bawang, hingga kembali ke Cirebon untuk menyelesaikan masa remajanya di bangku SMU pada tahun 1999.
Pengalaman bekerja belasan tahun di perusahaan besar seperti PT. Dipasena (DCD) hingga Sungai Budi Grup menempa etos kerjanya. Namun, panggilan hati untuk membangun “rumah” sendiri membawanya pulang ke pemerintahan desa di Mesuji pada awal 2015. Di sinilah, babak baru kehidupannya dimulai.
Perkenalannya dengan OpenSID pada tahun 2018 menjadi titik balik. Suganda menyadari bahwa desa tidak akan bisa melompat maju tanpa data yang akurat. Ia pun terjun total menjadi pegiat Desa Digital melalui program Smart Village Lampung.
Di sela-sela kesibukannya sebagai anggota Forum Komunitas Desa Digital Lampung, ia memutuskan kembali ke bangku kuliah di Institut Teknologi dan Bisnis Mesuji (ITBM). Pada tahun 2025, ia resmi menyandang gelar di bidang Sistem dan Teknologi Informasi—sebuah pembuktian bahwa usia bukanlah penghalang untuk menguasai teknologi masa depan.
Puncaknya, pada akhir 2025, Gubernur Lampung secara resmi mempercayakan amanah besar kepadanya sebagai Tim Optimalisasi Data dan Potensi Desa/Kelurahan Provinsi Lampung. Sebuah tanggung jawab strategis untuk memastikan setiap jengkal potensi desa di Lampung terbaca oleh radar digital pemerintah pusat.
Bagi Suganda, perjuangan digitalisasi ini bukan sekadar tentang angka dan aplikasi, melainkan tentang masa depan generasi mendatang.
Digitalisasi desa adalah jembatan menuju keadilan sosial. Saat data desa akurat, maka bantuan dan pembangunan akan tepat sasaran.